Refleksi Pribadi tentang Transformasi Digital Madrasah dan Peran Orang Tua
Oleh: Drajad Hadi Wibowo
Sebagai pendidik di MTsN 8 Bantul, saya menyaksikan secara langsung bagaimana dunia anak-anak kita berubah dengan sangat cepat. Gawai kini bukan lagi barang asing. Hampir setiap peserta didik mengenal ponsel pintar, media sosial, dan video pendek. Namun di balik kemajuan itu, saya sering bertanya dalam hati: apakah teknologi sudah benar-benar membantu anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, atau justru membuat mereka kehilangan arah?
Transformasi digital dalam pendidikan adalah keniscayaan. Kita tidak bisa menolak perkembangan zaman. Akan tetapi, menerima teknologi tanpa kendali juga bukan pilihan bijak. Bagi saya, transformasi digital di madrasah bukan soal seberapa canggih perangkat yang digunakan, melainkan bagaimana teknologi itu diarahkan agar tetap selaras dengan tujuan pendidikan dan nilai-nilai keagamaan.
Di MTsN 8 Bantul, kami hidup berdampingan dengan masyarakat yang sederhana. Sebagian besar orang tua peserta didik bekerja sebagai buruh dan petani. Kondisi ini berpengaruh pada keterbatasan fasilitas, akses internet, serta waktu pendampingan anak di rumah. Fakta ini bukan untuk disesali, melainkan untuk dipahami bersama. Karena pendidikan yang baik harus berpijak pada realitas, bukan asumsi.
Oleh karena itu, saya meyakini bahwa transformasi digital madrasah harus berjalan secara realistis dan kontekstual. Digitalisasi tidak harus selalu daring, tidak harus mahal, dan tidak harus meniru sekolah-sekolah di perkotaan. Yang terpenting adalah perubahan cara berpikir: bagaimana pembelajaran menjadi lebih relevan, bermakna, dan membangun karakter.
Dalam proses ini, peran orang tua menjadi sangat menentukan. Orang tua tidak dituntut menguasai teknologi atau memahami semua aplikasi yang digunakan anak. Namun orang tua memiliki peran utama sebagai penjaga nilai dan pengarah penggunaan teknologi di rumah. Nilai kerja keras, kedisiplinan, kesederhanaan, dan kepedulian sosial yang tumbuh dalam keluarga buruh dan petani justru menjadi fondasi kuat dalam mendidik anak di era digital.
Anak-anak boleh memegang gawai, tetapi mereka perlu bimbingan agar tahu kapan belajar, kapan beristirahat, dan kapan bersosialisasi secara nyata. Teknologi harus menjadi sarana belajar dan pengembangan diri, bukan sekadar hiburan tanpa batas.

Saya melihat MTsN 8 Bantul memiliki kekuatan besar yang patut disyukuri, yaitu peserta didik yang kuat dalam keterampilan praktis dan kehidupan bermasyarakat. Mereka terbiasa bekerja sama, membantu, dan belajar dari lingkungan sekitar. Transformasi digital seharusnya memperkuat potensi ini, misalnya melalui pembelajaran berbasis proyek, dokumentasi keterampilan siswa, serta penguatan literasi digital yang terintegrasi dengan nilai agama.
Transformasi digital madrasah tidak akan berhasil jika berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara madrasah dan orang tua. Madrasah berperan mengarahkan dan mengendalikan penggunaan teknologi secara edukatif, sementara orang tua menjadi pendamping dan teladan di rumah. Ketika keduanya berjalan seiring, keterbatasan bukan lagi hambatan, melainkan tantangan yang bisa dihadapi bersama.
Pada akhirnya, transformasi digital bukan tentang teknologi itu sendiri, tetapi tentang bagaimana kita memanusiakan manusia di tengah kemajuan zaman. Saya percaya, dengan sinergi yang kuat antara madrasah dan orang tua, MTsN 8 Bantul dapat terus melahirkan generasi yang bertakwa, berkarakter, terampil, dan siap menghadapi masa depan tanpa kehilangan jati diri.
Oleh: Drajad Hadi Wibowo

