Eksistensi Unggah-Ungguh dalam Budaya Unggah-ungguh merupakan warisan luhur yang mengatur tata krama, cara bertutur kata, serta perilaku dalam bersosialisasi. Dalam tradisi Jawa, etika ini bukan sekadar norma sosial, melainkan cerminan kualitas kepribadian dan martabat seseorang. Namun, di tengah gempuran modernisasi dan arus global yang kian deras, nilai-nilai kesantunan ini mulai luntur, terutama pada Generasi Z.
Tantangan di Era Digital Lahir di zaman serba digital, Generasi Z memiliki ketergantungan tinggi pada teknologi dan informasi. Paparan media sosial dan budaya luar secara masif telah membentuk ulang cara mereka bertindak. Salah satu efek negatifnya adalah menipisnya rasa hormat terhadap tata krama, khususnya saat berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Gaya bicara yang terlalu bebas dan sikap yang mengabaikan batasan etika sering kali membuat nilai kesopanan menjadi kabur.
Realita di Lingkungan MTs N 8 Bantul Gejala ini juga tampak pada sebagian siswa MTs N 8 Bantul. Meski sekolah berada di kawasan pedesaan yang kental dengan budaya sopan santun, tantangan sosiokultural tetap ada. Banyak orang tua siswa yang bekerja sebagai buruh, petani, atau perantau, sehingga waktu untuk membimbing anak di rumah menjadi sangat terbatas. Tak jarang, siswa hanya tinggal bersama kakek atau nenek mereka.

Minimnya pengawasan intensif dari orang tua membuat anak lebih banyak menyerap pengaruh dari lingkungan pergaulan dan dunia maya yang belum tentu selaras dengan nilai lokal. Dampaknya, muncul perilaku yang kurang mencerminkan adab, baik di tengah masyarakat maupun di lingkungan sekolah.
Sinergi Rumah dan Sekolah sebagai Solusi Dalam menghadapi situasi ini, peran keluarga tetap menjadi pondasi utama. Rumah adalah institusi pendidikan pertama bagi anak untuk mempelajari nilai moral melalui teladan nyata dari orang tua atau pengasuh. Ajaran sederhana tentang cara berbicara yang halus dan sikap hormat akan jauh lebih efektif jika dipraktikkan secara konsisten daripada sekadar nasihat lisan.
Di sisi lain, madrasah memegang peran strategis dalam memperkuat wawasan moral siswa. MTs N 8 Bantul berkomitmen menjadi pusat pengembangan akhlak, bukan sekadar tempat mengejar prestasi akademik. Melalui teladan dari para guru dan budaya madrasah yang disiplin, siswa dibimbing untuk menghidupkan kembali nilai kesantunan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan Kolaborasi harmonis antara orang tua dan pihak sekolah adalah kunci untuk menghidupkan kembali unggah-ungguh. Ketika rumah memberikan pembiasaan dan sekolah memberikan penguatan karakter, maka akan lahir generasi MTs N 8 Bantul yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas moral yang kokoh. Unggah-ungguh bukanlah tradisi usang, melainkan identitas bangsa yang harus dijaga agar generasi muda tetap beradab di tengah kemajuan zaman.
(Jaat SIyah Riwayati)

